Affif JohansyahThe Playbook, A Post-Game Review

Bandung, Indonesia

0% READ

Post-Game Review: Yang Terjadi Setelah Buzzer Terakhir

Playbook menunjukkan play-nya. Ini ruang di sebelahnya, tempat setiap play ditonton ulang, ditulis, dan diperdebatkan, plus locker room tempat tulisan itu dikerjakan.

Playbook memberi tahu bagaimana sebuah play seharusnya berjalan. Ia tidak pernah memberi tahu bagaimana play itu benar-benar berjalan. Untuk itu, setiap tim punya ritual yang sama setelah buzzer terakhir: duduk, menonton ulang rekaman, lalu membahas apa yang berhasil, apa yang gagal, dan apa yang akan dijalankan berbeda lain kali.

Portofolioku adalah The Playbook, sebuah buku berisi karya. Tapi buku, dari desainnya, sudah selesai. Ia tidak bisa menampung pemikiran yang terus muncul setelah sebuah project rilis, side project yang tidak pernah jadi case study, atau opini yang tidak bisa berhenti kupikirkan. Jadi situsnya dapat ruang kedua: Post-Game Review, tempat play-play itu ditonton ulang dan ditulis.

Index Post-Game Review: setiap review berdiri di lantai sebagai bendanya sendiri.
Index Post-Game Review: setiap review berdiri di lantai sebagai bendanya sendiri.

Nama dari lapangan basket

Begitu bukunya bernama playbook, kosakata lainnya datang dengan sendirinya. Tidak semua review adalah obrolan yang sama, jadi setiap jenisnya dapat nama dari lapangan:

  • Film Session membedah sesuatu yang kubangun, frame demi frame: masalahnya, flow lama, flow baru, dan keputusan di antaranya.

  • Press Conference untuk opini, bagian saat kamu berdiri di depan mikrofon dan bilang apa yang sebenarnya kamu pikirkan.

  • Overtime untuk fiksi dan cerita, babak tambahan yang tidak pernah direncanakan.

  • Dan Locker Room adalah tempat semuanya ditulis. Pembaca tidak pernah melihatnya, sama seperti penonton tidak pernah melihat papan tulis saat half-time.

Awalnya cuma candaan kecil, ternyata berguna. Setiap kali mulai menulis, kategorinya sudah memberi tahu tulisan macam apa yang seharusnya jadi.

Rumah yang sama, ruangan berbeda

Aturan pertama: review tidak boleh terasa seperti blog yang ditempelkan ke portofolio. Jadi ia memakai baju yang sama dengan bukunya: namaku di kiri atas, jam Bandung di kanan atas, rail di kiri dengan aksi di bawahnya, grain yang sama di latar yang sama. Baris di bawah namaku berubah dari A Portfolio menjadi A Post-Game Review, dan dari situ kamu tahu sudah masuk ke ruangan lain.

Perpindahan di antara keduanya adalah transisi, bukan page load. Saat meninggalkan buku, indeks dan aksinya tenggelam, bukunya jatuh dan mengecil, lalu review terbuka. Kembali ke buku memutar urutannya terbalik. Rasanya harus seperti berbalik badan di ruang yang sama, bukan dilempar ke website lain.

Index yang bisa dijelajahi

Kebanyakan index blog berupa satu kolom kartu. Di sini, index-nya adalah lantai. Setiap review diwakili cut-out, benda kecil yang mewakili tulisannya: roti untuk flow pemesanan sebuah bakery, pulau untuk sebuah game, lapangan untuk cerita tentang satu tembakan, buku untuk The Playbook. Semuanya berdiri di lantai isometrik, dan lantainya bisa kamu tarik, lempar, lalu biarkan meluncur.

Ia bersikap seperti benda yang punya bobot:

  • Lantainya bergerak mengikuti tangan dan meluncur saat dilepas, lalu pelan-pelan kembali kalau didorong melewati tepinya, seperti karet, bukan tembok.

  • Setiap cut-out tergantung di pegasnya sendiri, dengan massanya sendiri, jadi tarikan cepat membuat mereka berayun sedikit, masing-masing dengan temponya. Seperti jersey di gantungan saat ada yang membanting pintu loker.

  • Cut-out sedikit condong ke arah pointer saat kamu melewatinya.

  • Cut-out mempertahankan ukurannya di gambar aslinya, jadi benda kecil tetap kecil di samping benda besar. Sepotong roti tidak sebesar stadion.

Lantainya sendiri tenang: grid tipis, gelombang pelan, dan riak di tempat kamu menyentuhnya. Ini field yang sama dengan yang ada di belakang buku, dibaringkan supaya benda-bendanya punya tempat berdiri.

Kalau ingin membaca, bukan berkeliling, List View mengubah lantai jadi baris-baris: judul, synopsis satu kalimat, kategori, dan tanggal. Saat kamu bergerak turun, portrait review-nya mengikuti pointer di sisi kanan, condong ke arah gerakanmu.

List View, dengan portrait yang mengikuti pointer di jalur kanan.
List View, dengan portrait yang mengikuti pointer di jalur kanan.

Filter yang bisa dikirim

Di bawah ada satu bar: kategori (All, Overtime, Film Session, dan lainnya), bahasa (All, EN, ID), dan tombol pindah antara kanvas dan list. Mengganti filter memutar exit dan entrance yang sama, kontrol mana pun yang disentuh.

Filternya tersimpan di alamat. Link ke "hanya Film Session, hanya dalam bahasa Indonesia" membuka persis itu, jadi index yang sudah difilter bisa di-share semudah satu review. Portofolio yang dibuat untuk di-share tidak boleh punya satu halaman pun yang tidak bisa di-share.

Review yang terbaca seperti bukunya

Membuka review tetap membawa rumahnya. Rail di kiri berubah jadi outline tulisan, jadi kamu selalu tahu sedang di mana dan bisa melompat ke bagian mana pun. Di tempat buku menaruh nomor halaman, review menunjukkan seberapa jauh kamu sudah membaca. Di atas, breadcrumb menyebut ruangan tempatmu berada: The Playbook, Post-Game Review, kategorinya, lalu review-nya.

Teksnya duduk di satu kolom dengan line height yang lega, dan setiap gambar, video, dan tabel mengikuti lebar kolom itu. Di bawah review ada bacaan berikutnya, dengan gaya yang sama seperti list view, jadi tulisan selanjutnya cuma selangkah.

Sebuah review, dengan outline di rail dan switch bahasa di bawah judul.
Sebuah review, dengan outline di rail dan switch bahasa di bawah judul.

Dua bahasa, satu entri

Aku menulis dalam bahasa Inggris dan Indonesia, dan kebanyakan pembaca cuma butuh salah satunya. Jadi sebuah review bisa punya versi bahasa lain, dan keduanya saling tertaut.

Di index, sepasang review muncul sebagai satu entri berlabel EN · ID, bukan dua entri yang nyaris kembar. Kalau index difilter ke satu bahasa, yang muncul versi bahasa itu. Di halaman review, switch EN | ID ada di samping tanggal. Dan terjemahannya tidak pernah ditawarkan sebagai "baca berikutnya" di bawah versi aslinya, karena tidak ada yang selesai membaca artikel lalu ingin membacanya lagi dalam bahasa lain.

Di HP, lantainya jadi kolom zig-zag, dan review tetap membawa switch bahasanya.
Di HP, lantainya jadi kolom zig-zag, dan review tetap membawa switch bahasanya.

Locker Room

Setiap tim butuh ruangan yang tidak pernah dilihat penonton. Locker Room adalah tempat review ditulis, disimpan, dan diterbitkan, dan ia dibangun dari bagian-bagian yang sama dengan situs lainnya, jadi terasa seperti ruangan lain di rumah yang sama, bukan admin tool terpisah.

Ia dibuka dengan semacam squad sheet: berapa review yang ada, berapa yang sudah terbit atau masih draft, dan total katanya. Di bawahnya ada semua review dengan kategori, bahasa, status, dan jumlah kata, lengkap dengan search, filter, dan aksi untuk edit, lihat, atau hapus.

Locker Room: semua review, terbit atau belum, di satu tempat.
Locker Room: semua review, terbit atau belum, di satu tempat.

Menulis di kolom tempat ia akan dibaca

Kolom menulis di editor persis selebar kolom yang terbit, dan ia menyebutnya di atas: 760px, the published column. Yang kulihat saat menulis adalah tempat baris akan patah saat dibaca. Tidak ada lagi tulisan yang terlihat rapi di editor tapi berantakan di halaman.

Semua yang bisa ditampilkan reader bisa ditulis di editor, dari satu menu. Mengetik `/` atau menekan `+` membuka daftar yang sama: heading, callout, pull quote, gambar atau GIF dengan caption, video, link YouTube, code, divider, list, dan tabel. Beberapa keputusan yang membuat menu itu bisa dipercaya:

  • Gambar tetap bergerak. GIF tetap animasi, baik sebagai cover, cut-out, maupun gambar di dalam teks.

  • YouTube diputar di player sendiri. Play, pause, dan progress bar, tanpa tampilan YouTube di sekelilingnya, jadi video yang disematkan terlihat bagian dari halaman.

  • Tabel mempertahankan bentuknya. Lebar kolom yang kutarik di editor adalah lebar yang dilihat pembaca.

  • Bar di atas mencatat skor. SEO check, jumlah kata, dan waktu baca ada di atas selama aku menulis, seperti scoreboard yang selalu menyala.

Satu menu untuk semua blok, dibuka dengan / atau dengan +.
Satu menu untuk semua blok, dibuka dengan / atau dengan +.

Dua bahasa, berdampingan

Menulis review dua kali adalah bagian yang paling membosankan, jadi di layar lebar editor menampung kedua versi dalam dua kolom, Inggris di kiri, Indonesia di kanan, masing-masing menyimpan dirinya sendiri. Aku bisa menulis satu paragraf di satu kolom dan menerjemahkannya di kolom lain selagi idenya masih hangat.

Review yang belum punya terjemahan menampilkan kolom kosong, dan terjemahannya baru dibuat saat aku mengetik kata pertama di sana. Membuka halaman tidak pernah meninggalkan draft kosong. Terjemahan baru berbagi gambar, kategori, dan tag dengan aslinya, dan dimulai dari halaman kosong, karena terjemahan yang dimulai dari salinan cenderung berhenti di tengah jalan.

Editor dengan dua bahasa berdampingan, masing-masing di kolom selebar versi terbitnya.
Editor dengan dua bahasa berdampingan, masing-masing di kolom selebar versi terbitnya.

Yang aku pelajari

Playbook hanyalah separuh cerita. Separuhnya lagi adalah apa yang kamu katakan setelah pertandingan, saat rekamannya sudah ditonton. Membangun Post-Game Review sebagian besar soal menjaganya tetap di rumah yang sama dengan bukunya: chrome yang sama, latar yang sama tenangnya, perhatian yang sama pada gerak, supaya membaca review terasa seperti berbalik badan di ruangan yang sama.

Dan kosakatanya bekerja lebih keras dari dugaanku. Begitu bukunya menjadi playbook, setiap bagian baru sudah punya nama dan tugasnya. Buku adalah play-nya. Review adalah rekamannya. Locker Room adalah tempat pekerjaannya dikerjakan.

  • #portfolio
  • #web design
  • #writing

Relevant reviews