Affif JohansyahThe Playbook, A Post-Game Review

Bandung, Indonesia

0% READ

Will I shoot It?

A slice-of-life story from 2023

Waktu tinggal 2 detik, passing indah dari Andre menuju Jo yang terbuka lebar di garis 3 angka, From the downto… Apa? Jo melakukan passing ke Rangga, bola ditepis. Kemenangan untuk SMAN 3 dengan skor akhir 48–46.’

Bunyi peluit pertanda quarter 3 dimulai menyadarkanku dari lamunan. Kenangan masa laluku akhir-akhir ini selalu menghampiriku. Ku lempar botol, ku ikat tali di celana, bersiap masuk ke lapangan.

Malam ini sedang ada pertandingan persahabatan antara katorku dan partner. Kulihat papan skor menunjukkan angka yang terpaut jauh, 68–40, kemenangan untuk kantorku.

Priiit Priit Priit

Tanda pertandingan berakhir. Skor akhir 89–72. Pertandingan yang cukup membosankan, bermain hanya di 3 quarter saja, diriku sigap berbaris dan menyalami partner-partner kantorku.

Setelahnya kami berfoto bersama dan basa-basi sekadarnya sambil mengganti pakaian. Kubereskan pakaianku dan beranjak pergi. Tiba-tiba bahuku ditepuk.

‘Apa kabar, Jo?’ Suara yang tidak asing.

‘Alhamdulillah, baik, Ge, lu gimana? Ngapain di sini?’ balasku ke Rangga yang sering dipanggil Ge. Saat ini Rangga adalah seorang pegawai BUMN yang masih aktif bermain basket di klub yang ia dirikan.

‘Baik juga dong! Gue tadi abis cek lapangan buat pertandingan minggu depan, lu mau ikutan ga? Gue lagi butuh yang ngisi posisi 3 nih.’ Balasnya.

‘Tawaran menarik nih, tapikan lu juga tau kalo gue sekarang biasa main di posisi 1.’ timpalku.

‘Ah, semua orang juga tau, Jo. Lu lebih cocok main di posisi 3, tadi aja berapa kali lu tanpa sadar main sebagai posisi 3.’ balasnya yang membuat diriku terdiam. ‘Sudahlah, jangan diingat terus kejadian yang sudah lalu, kesempatan akan selalu datang Jo, tinggal lu aja mau ambil apa engga. Gue tunggu kabar dari lu maksimal lusa ya, gue duluan.’ Timpalnya sambil meninggalkan diriku berjalan keluar lapangan.

‘Jo! Gue tau visi bermain lu sekarang udah ga fokus ke scoring lagi, tapi lu tadi udah kosong dibawah, ngapain lu harus passing lagi sih?’ bentak Andre disebelahku. ‘Beberapa kali lu juga nge-delay fast break, tinggal maju sendirian kenapa sih?’ timpalnya lagi.

‘Gue ga pede Dre, beberapa tahun ini gue ngerasa nyaman dengan posisi Gue saat ini.’ balasku.

‘Tai, jangan pura-puralah, Gue juga tau kalo sekarang Lu ngebohongin dirilu! Gue gamau tau, next kita main Gue mau liat Lu main dengan lepas.’ balas Andre dengan kesal.

Bunyi klakson mengagetkanku. ‘Maju woi.’ teriak pengendara mobil di belakang. ‘Akh.. Setan, akhir-akhir ini kenapa kepikiran terus sih.’ umpatku. Aku pun melaju dan melewati jalanan Bandung yang sedang sepi.

Tak lama terdengar suara pesan masuk dari Rangga. ‘Gimana? Jadi mau ikut ga? Ada Andre nih ikutan, dia bilang lu masih punya janji sama dia.’

Diriku terdiam sejenak, Andre sudah 2 tahun ini pergi berkuliah diluar, tentu saja diriku sangat ingin bermain bersama mereka kembali, tapi kenapa situasinya harus setepat ini. Di saat aku teringat kejadian-kejadian yang ku sesali, kesempatan untuk mencobanya lagi selalu datang setelahnya. Secepat itu di saat ini.

‘Yaudah, gas.’ balasku singkat sambil melanjutkan perjalanan.

'Terkadang semesta berhendak dengan kemauannya sendiri.’ gumamku.

Dua hari sebelum pertandingan, kami bertiga dan seluruh pemain dari klub Rangga berlatih. Aku menepati janjiku untuk bermain sebagai posisi 3. Bertahan dengan baik dan menyerang dengan cepat, sudah lama sensasi semenyenangkan ini tak kurasakan. Passing-passing indah dari Andre tidak pernah berubah, selalu presisi dan cepat. Kemampuan rebound dari Rangga juga semakin tajam.

Latihan pun selesai, pelatih mengumumkan starter. Diriku, Andre, dan Rangga terpilih sebagai starter. Semua pemain setuju, tak ada yang merasa keberatan, kecuali diriku yang melirik sinis ke Rangga. Aku tau betul apa yang ia rencanakan. ‘Inisih emang akal-akalan si Rangga aja, dasar pemilik klub.’ umpatku dalam hati.

Waktu berjalan dengan cepat. Waktu pertandinganpun tiba.

‘Udah Jo, jangan diinget terus kesempatan yang udah lewat, fokus aja sama kesempatan yang ada di depan’ kata Rangga. ‘ya paling engga kesempatan yang lama bisa jadi dateng lagi Jo, hahaha’ timpal Andre.

Diriku hanya terdiam, kakiku gemetaran. ‘Sial,’ umpatku dalam hati.

Pemanasan dimulai, under-ring ku melesat kedalam keranjang dengan tepat, layup ku masuk dengan mudah, sayangnya beberapa shoot-ku jauh dari sasaran. Kulihat lawanku, ada muka yang tak asing.

Priiit

Tanda pertandingan dimulai. Rangga bersiap-siap untuk lemparan awal. Ku lirik Andre dan Rangga, mereka mengganguk pelan. Bola dilemparkan, Rangga menepis bola ke arah Andre. Dalam seketika, bola melayang dengan cepat ke tanganku, dua skor untuk tim kami.

Pertandingan berjalan dengan sengit, kejar-mengejar skor terus terjadi. Tak jarang, saking semangatnya, sering terjadi kontak fisik yang cukup keras.

Pertandingan memasuki babak kedua, kami unggul 2 skor. Belum terlihat tanda-tanda menyerah dari pihak lawan, pertandingan akan berjalan cukup sulit firasatku.

Sekilas kulihat lawan bermainku, ada muka yang tak asing. ‘Oh ya! Dia yang waktu itu menepis bolaku’ gumamku kesal dalam hati.

Quarter 3 berjalan, bola untuk lawan. Pertahanan kami cukup kuat, bola berhasil direbut. Aku berlari ke depan, dengan cepat bola ditanganku. Ku giring bola ke arah keranjang, easy layup!

Bruuk!!

Aku tersungkur keluar lapangan. ‘Tak semudah itu’ saut dia. ‘Sial, mulai nih’ gumamku kepada lawan yang pernah merebut bolaku dahulu.

Aku berdiri cepat, dua lemparan bebas diberi padaku. Dengan mudah keduanya kumasukkan, kutatap matanya dengan sinis dan tersenyum. Dia hanya bisa memasang muka kesal. Pertandingan berlanjut alot dan saling kejar-mengejar skor.

8 detik terakhir di quarter 4, kami kalah 2 poin. Pelatih memberikan skema permainan terakhir, diriku ditunjuk sebagai eksekutor akhir. Rangga dan Andre langsung melihatku.

‘Masuk ga masuk bolanya bakalan gue ambil kok! Tenang aja Jo’ saut Rangga. ‘Passing gue saat ini akan jadi yang terbaik buat lu terima,’ timpal Andre. Mereka tau betul bagaimana aku masih menyesali kejadian waktu itu.

Aku berdiri, bersiap masuk, kupukul kedua bahu temanku. ‘Ayo,’ kataku.

Priiit

Bola diberikan ke Andre, aku berlari dari ujung sisi lapangan ke arah Andre, Rangga dengan cepat mengambil posisi box — out di bawah keranjang. Bola dilempar ke diriku, bola mendarat di tanganku dengan mudah.

Garis tiga angka berada di depanku. Kuambil posisi menembak, tapi dengan cepat kulihat ada yang berlari dan langsung melompat. Dengan tenang aku ambil satu pantulan untuk menipu dirinya, bergerak ke kanan satu langkah, dia melompat melewatiku.

Kembali kuambil posisi menembak.

Bola melayang dengan parabola yang sangat indah, tanganku masih dalam posisi menembak. Semua terdiam melihat bola yang berputar, aku hanya tersenyum melihatnya.


Malam ini kami bertiga tertawa, menikmati susu murni di dekat rumahku. Kami larut dalam obrolan, tak terasa waktu sudah menunjukkan tengah malam. Rangga dan Andre pamit pulang ke rumah masing-masing. Aku memandang langit malam yang cerah, bulan dan bintang saling melengkapi langit yang berwarna biru tua.

‘Terima kasih tuhan atas kesempatannya.’ Kata diriku sambil menutup pintu rumah.

Tidak semua tembakan akan masuk ke dalam keranjang, tapi setidaknya kesempatan sudah diambil. Akhir ceritanya ada ditangan semesta, semoga beruntung.

  • #Slice of Life
  • #Basketball

Relevant reviews