Melantun di Pikiran
Satu malam di lapangan dekat rumah, dan lantunan bola yang masih terngiang sampai sekarang.

Malam itu lapangan basket dekat rumahku lebih berisik dari biasanya. Bunyi lantunan bola yang menggema di dalam lapangan terdengar sangat jelas. Terlihat jelas bahwa sedang terjadi permainan dengan tensi yang tinggi, mungkin saja?
Bola ku-passing, sial, gagal ditangkap dan ditepis. Musuh menyerang balik. Kulihat ada dua yang menyerang. Kupercepat lariku karena hanya ada satu orang dari timku yang bertahan. Aku tutup jalur passing-nya. Timku menjaganya, fake move.

“Jangan loncat!” teriakku, tapi terlambat. Timku sudah melompat.
“Prit.” Bunyi peluit, defensive foul, dan dua free throw diberikan kepada tim musuh.
“Kalau passing yang bener dong!” teriakan dari ujung lapangan.
Aku terdiam melihatnya dan hanya mengangkat tangan kananku sebagai pengakuan atas kesalahan.
Dua free throw dilempar, semua masuk.
Permainan dilanjutkan. Waktu menunjukkan 07:27 dengan ketertinggalan skor timku 11–25. Kulihat semua timku sudah tidak bersemangat. Muka mereka sudah kelelahan.
Kulakukan gerakan spin-off dan meminta bola dengan kondisi kosong, tapi pembawa bola malah memberikannya kepada pemain di pojok. Satu kali jab, dia coba masuk ke dalam paint area. Dua step dia ambil sambil dijaga oleh pemain tengah tim musuh, kemudian dia memaksakan untuk shoot. Bola melayang ke belakang ring.
Aku hanya diam. Amarah tiba-tiba datang, tapi aku tahan.
Tenang, hanya satu possession.
Pertandingan berlanjut. Poin demi poin bertambah untuk tim musuh, dan timku? Hanya menambah 4 poin hingga peluit akhir ditiup. Permainan ini selesai.
Di saat tim musuh saling toss satu sama lain, timku langsung beranjak ke tempat duduk mereka dan saling mengobrol. Aneh rasanya aku tidak duduk bersama mereka, tapi aku sungkan.
Kulihat mereka menunjukku dengan muka kesal. Aku hanya diam.
Kami semua pulang pada pukul 08.34 malam. Mereka pulang tanpa menyapa dan tanpa perpisahan denganku. Aku berjalan ke rumahku sendirian.
Malam itu sepi. Lapangan yang kukira tempat yang menyenangkan malah menjadi tempat yang membuatku tidak menjadi diri sendiri, dan aku hanya bisa menerima.
Tapi aku tidak pernah menyesal. Aku selalu mencoba untuk memperbaiki, kucoba untuk belajar dari kesalahanku, tapi kadang waktu sedang tidak bersamaku, kadang pula semesta sedang mengarahkanku untuk mengenal posisiku saat ini.
Aku tahu kadang-kadang semua terasa menantang diriku, mulai dari musuhku hingga tak jarang timku sendiri. Tapi yang kusadari adalah diriku akan selalu berjuang.
Memori saat aku menikmatinya sering melintas di benakku, mulai dari menikmati setiap lantunan bola, bahagia dalam setiap permainannya, hingga musuh yang dihadapi bersama. Tapi ternyata semesta tak semanis dan tak sesuai dengan pikiranku.
Ada kalanya aku jatuh dan tak bisa diandalkan. Walau di permukaan terlihat kuat dan bisa terus berdiri sendiri, ada saatnya aku juga memerlukan tangan yang mau membantuku untuk berdiri tegak. Sebuah kepercayaan untuk terus maju dan bertarung bersama.
Tapi tak semua pikiranku akan terjadi. Ada kalanya realitas menabrak diriku dengan keras di depan muka. Hidup kadang di bawah, kadang pula jatuh jauh lebih dalam lagi.
Sungguh menyenangkan bisa hidup dan merasakan semuanya. Dimulai dari rasa puas dan rasa bisa diandalkan, hingga rasa ditinggalkan dan menjalani semuanya sendirian.
Karena yang sudah aku sadari sejak lama, semuanya sudah lelah dengan diri mereka sendiri, pun letih dengan penjagaan yang harus mereka hadapi sendirian.
Hidup diisi oleh dua hal: bertahan atau menyerang, tidak ada pilihan di antaranya. Jika saatnya untuk bertahan, pastikan pertahanan selalu rapat dan sinkron satu sama lain. Tapi jika saatnya untuk menyerang, dibutuhkan ritme dan koordinasi untuk mengacaukan pertahanan musuh dan memasukkan bolanya ke dalam ring.
Tatkala hidup harus terus maju, seperti pergerakan bola basket yang tidak boleh berhenti lebih dari 3 detik di paint area atau melewati batas waktu 24 detik saat menyerang. Hidup harus selalu bergerak maju dan berpindah. Jangan pernah berhenti. Semua harus terus mengalir. Seperti jam permainan yang akan terus berkurang saat di lapangan.
Banyak yang aku rindukan dari lapangan itu, lapangan di saat aku melantun tanpa peduli dunia, hanya cukup aku bersama timku, bola, dan lima orang lawan dari tim musuh.
Lantunan cepat atau lambat, kerumunan yang menyoraki, udara yang rasanya dingin atau panas tanpa peduli pada cuaca di luar, semua bersatu menjadi sebuah keindahan yang tidak bisa dirasakan oleh semua orang.
Bersama untuk saling bermain, bertarung untuk satu tujuan, dan yang paling penting, bukan untuk mengejar kemenangan, tapi untuk merasakan kebahagiaan di setiap lantunan bola, walaupun waktu terus berkurang dan keringat mengucur tanpa henti.
Semoga semua yang sudah terjadi menuntunku untuk bisa menemukan kebahagiaan itu, karena lantunan itu terus bergaung di pikiranku yang penuh dengan batasan-batasan tanpa ujung.
Hanya satu umpan yang aku butuhkan untuk dapat menikmati permainan yang menyenangkan itu lagi.
Selamat malam, undur pamit untuk sementara waktu, dan pasti akan kembali ke lapangan itu lagi, entah cepat ataupun lambat, mungkin saja di sisi yang sama atau bisa saja di sisi yang berbeda.
Relevant reviews
- Will I shoot It?A slice-of-life story from 2023IDOvertimeDecember 30, 2023
- PulangLembur hingga jam sepuluh, dua batang rokok terakhir, semangkuk Empal Gentong, dan alasan untuk belum pulang.IDOvertimeApril 18, 2021
- Tang Tung: Designing a Cozy Math Game for My Little BrotherDesign notes behind a pixel art learning game for primary school kids, from the learning logic and product decisions to the art direction.EN · IDFilm SessionSeptember 29, 2026


