Affif JohansyahThe Playbook, A Post-Game Review

Bandung, Indonesia

0% READ

Pulang

Lembur hingga jam sepuluh, dua batang rokok terakhir, semangkuk Empal Gentong, dan alasan untuk belum pulang.

Malam itu, dua layar monitor menatap diriku yang terdiam membisu. Tangan kiriku yang sedari tadi menopang kepalaku mulai menjerit kelelahan. Kutarik napas dalam-dalam.

“Tuhan! Bagaimana aku menyelesaikan cerita ini?”

Semua ini dimulai beberapa hari yang lalu, hari Senin di awal bulan Februari. Slide presentasi sudah sampai layar hitam. Kaos oblong warna biru dipadu jeans yang dua tahun belum dicuci berdiri sambil membenarkan poninya yang jatuh.

“Okeee… Semua sudah jelas, kan? Bisa kita tutup briefing sore ini?” ujarku kepada tim kreatif yang kupimpin.

“Hmmm…. Sepertinya semua sudah jelas,” sahut anggota timku.

“Oke, saya tutup, ya. Terima kasih semuanya.”

Dan begitulah mereka satu per satu masuk ke dalam kantor dari taman belakang, kecuali diriku. Kuisap sebatang rokokku yang belum habis sambil terdiam melihat presentasi untuk proyek baru ini.

Batang demi batang rokok terus bersambung. Tak terasa bulan sudah sedari tadi menggantikan matahari, perutku sudah mulai berkeluh kesah.

“Ayo isi perutmu ini, hei bodoh! Sudah cukup banyak nikotin di dalam darahmu itu!” teriak perutku.

“Baiklah.”

Kumatikan rokok, kuambil iPad, kukantongi bungkus rokok dan pemantik, lalu beranjak diriku ke meja kerjaku. Kulihat jam tangan di tangan kananku.

“Sial! Sudah jam 10 malam ternyata.”

Segera kubereskan mejaku. Saatnya pulang.

Suara HP berdering. Kuangkat.

“Halo…” sapaku dengan lembut.

“Halo... Kamu pasti belum makan, kan? Aku lagi di deket kantormu, mau makan bareng? Aku habis lembur nih,” tanya wanita cantik di ujung sana.

“Hmmm… Tawaran kencan yang menarik. Jemput aku, ya, motorku tinggal di kantor saja,” jawabku cepat.

“2 menit lagi sampe, tunggu di depan, ya. GA PAKE LAMA YA!”

Langsung ditutup.

Bergegas aku menunggu di depan kantor. Kuambil satu batang rokok dan kunyalakan.

“Sial, tinggal 2 batang lagi!” gerutuku sambil mengembuskan asap rokok.

Sambil menunggu, mari kukenalkan wanita cantik ini. Tinggi semampai, badan terjaga proporsional, muka putih, rambut terurai indah, lulusan kampus bergengsi, dan tentu saja menjadi idola kaum Adam. Wanita ini sudah kukenal sejak bangku sekolah. Tapi hubungan kami hanya sebatas teman. Tak lebih tak kurang.

Kulirik jam tanganku. 10.22.

“Setan, katanya 2 menit lagi! Ini sih 20 menit.”

Kupandangi bungkus rokokku, 2 batang lagi. Satu untuk menunggu makanan datang, satu setelah makan. Tak mungkin aku bakar lagi sekarang.

“Ah, sial!”

Saat aku sedang menggerutu, terdengar bunyi mobil disertai klakson dua kali. Datang juga.

Aku buka pintu belakang dan langsung melempar tas biruku. Masuk dan duduk di kursi belakang.

“Lu kira gue supir apa?” teriaknya.

“Ini gara-gara lu telat 20 menit. Udah ah, buruan! Perut gue udah teriak-teriak nih,” jawabku.

“Ah, apaan sih. Yaudah, lu bayarin gue, ya,” pintanya.

“Oke, boleh, supirku,” balasku.

Ia hanya mendengus kesal dan memacu mobilnya menembus malam.

Dinginnya cuaca Kota Bandung membuat kami memilih Empal Gentong di perempatan lampu merah Jalan Cihapit–Jalan Riau untuk menghabiskan kencan malam ini.

“Bu, campurnya satu, satunya lagi daging aja ya, Bu. Nasinya 2, yang satu setengah aja porsinya ya, Bu,” pesanku.

“Aa, agak lama gapapa ya? Nasinya belum mateng, Aa,” tanya si Ibu.

“Iya, gapapa, Bu,” jawabku, kemudian menyalakan rokok yang sedari tadi sudah kuhemat.

“Lembur apaan lu sampe jam 10? Tumben banget deh,” tanyaku sambil mengembuskan asap rokok.

“Hmm… Sebenernya ya… gue tadi di kantor cuman nonton aja sampe jam segitu,” jawabnya.

“HAAAA?!?! Lu gabut apa cinta banget sama kantor lu? Demen banget diem di kantor. Hahahaha,” teriak diriku dengan puas.

“Bukan gitu ceritanya, dodol.” Dipukulnya bahuku. “Aku lagi males aja cepet pulang,” timpalnya.

“Apaan sih? Lu kan anak rumah banget, biasanya juga sejam sebelum jam balik lu udah di rumah, kan? Lagi ada ape lu?” tanyaku lagi.

“Suasana rumah lagi ga oke banget. Males gue di rumah,” jawabnya dengan raut yang berubah.

“Hmmm, okay. Same thing happens again?” kataku.

“Ya….” jawabnya lirih.

“Jadi? Lu ga bakalan pulang malem ini?” tanyaku lagi dan lagi.

“Belum tau,” jawabnya singkat.

“Hmmm… Kalo lu bingung, kamar kosan gue terbuka lebar kok,” kataku sambil mematikan rokok.

“Argh…!” teriakku saat bahuku dipukulnya dengan keras, sementara ia melotot tajam ke arahku.

Aku hanya cengengesan sambil mengusap bahuku. Tiba-tiba dua mangkok Empal Gentong panas dan dua piring nasi datang ke meja kami. Sedetik kemudian kami tenggelam menikmati makanan.

“Burrrrgh…”

Bunyi sendawaku nyaring. Mangkok dan piringku sudah mengilap tanpa sisa. Kuminum teh hangat, lalu kunyalakan batang rokok terakhir.

“Jadi lu abis ini mau ke mana?” tanyaku.

“Hmmm, belum tau. Kemungkinan ke rumah temen gue sih,” jawabnya sambil mengelap mulut dengan tisu.

“Mau sampe kapan lu ga pulang ke rumah?” timpalku.

“Gatau deh. Udah ah, jangan dibahas mulu, males gue! Lu aja udah berapa tahun ga pulang, kan?” jawabnya sambil tertawa menang.

“Ah, tai lu,” umpatku.

Malam semakin larut, batang rokok terakhirku sudah habis. Kubayar pesanan tadi sesuai janji. Aku masuk ke dalam mobilnya dan duduk di kursi depan. Tiba-tiba pesan masuk ke dalam HP-ku. Kubaca cepat.

“Anterin gue ke kantor lagi aja ya, gausah ke kosan. Tapi mampir dulu ke minimarket, rokok gue abis. Boleh, kan?” pintaku.

Dia hanya tersenyum tanpa tanya, tahu betul apa yang terjadi. Mobil menyala dan kami pun melesat.

  • #bandung
  • #slice of life

Relevant reviews