Affif JohansyahThe Playbook, A Post-Game Review

Bandung, Indonesia

0% READ

Dari Whatsapp Berantai ke Satu Link

Sebuah usaha sourdough kecil menerima pesanan lewat pesan berantai WhatsApp, dan selalu ada yang terlewat. Begini alur pesannya dirancang ulang supaya lebih cepat untuk pembeli dan lebih ringan untuk penjual.

Cara pesan yang lama

Sebuah usaha sourdough dan salt bread kecil berjualan ke orang-orang di satu kantor. Setiap satu atau dua minggu PO dibuka, 20 sampai 30 orang memesan rata-rata dua roti, dan rotinya jadi dua hari setelah PO ditutup.

Semuanya lewat pesan berantai WhatsApp. Penjual mengirim menu, orang berikutnya menyalin seluruh daftar lalu menambahkan namanya di bawah, begitu terus sampai deadline. Setelah itu penjual menulis ulang pesan berantai itu jadi rekap untuk pembuat roti, manual, dengan nama roti yang panjang-panjang.

Jalan sih, tapi selalu ada yang terlewat:

  • Pesanan seseorang hilang karena dua orang menyalin pesan di waktu yang sama.

  • Tidak ada yang benar-benar yakin siapa yang sudah bayar.

  • Tidak ada yang benar-benar yakin siapa yang sudah ambil.

  • Rotinya datang kurang satu atau lebih dua, dan setoran ke pembuat roti jadi tidak cocok dengan yang benar-benar terjual.

Masing-masing masalah kecil. Tapi kalau digabung, setiap PO berakhir jadi satu malam scroll balik ke atas di grup chat.

Arahnya: lebih cepat untuk dua sisi

Setiap pesanan melibatkan dua orang, dan alur lama membuat keduanya kerja ekstra. Pembeli harus menyalin pesan panjang tanpa merusaknya. Penjual harus membaca ulang pesan itu dan mengubahnya jadi empat daftar berbeda.

Jadi tujuannya gampang diucapkan: pesan cukup beberapa tap untuk pembeli, jualan cukup beberapa tap untuk penjual. Tidak boleh ada langkah baru yang tadinya tidak mereka lakukan.

Pesan berantai diganti satu link, dibagikan di grup WhatsApp yang sama. Link itu membuka menu yang terasa seperti aplikasi pesan antar makanan, karena polanya sudah dikenal semua orang: foto di kiri, harga tebal, tombol + bulat.

Menu, checkout, dan layar konfirmasi. Data demo.
Menu, checkout, dan layar konfirmasi. Data demo.

Beberapa pilihan yang membuatnya tetap cepat:

  • Yang wajib cuma nama. Nomor WhatsApp opsional. Meminta nomor di awal bikin orang malas pesan, dan penjual bisa mengisinya belakangan.

  • Pesan dua kali tidak bikin pesanan kedua. Pesanan baru digabung ke yang pertama, jadi penjual selalu melihat satu orang sebagai satu baris.

  • Pembeli bisa mengubah atau membatalkan pesanannya selama PO masih dibuka. Setelah ditutup, pesanannya terkunci untuk mereka, dan muncul tombol untuk chat penjual.

  • HP mengingat pembelinya, jadi lain kali namanya sudah terisi. Daftar pembeli sebelumnya tidak pernah ditampilkan di halaman publik, karena siapa pun yang punya link bisa membacanya.

Untuk penjual: semuanya di satu tempat

Di sisi penjual ada dashboard. Isinya menjawab pertanyaan yang tidak pernah bisa dijawab pesan berantai, sekali lihat: berapa orang yang pesan, berapa roti, siapa yang belum bayar, siapa yang belum ambil, dan nomor siapa yang masih kosong.

Dashboard penjual selama PO berjalan. Data demo.
Dashboard penjual selama PO berjalan. Data demo.

Rekap untuk pembuat roti sudah tersusun per jenis roti, dan satu tombol membuka WhatsApp dengan pesan yang sudah terisi. Pengingat bayar dan ambil bekerja dengan cara yang sama, satu per orang, lengkap dengan total dan info pembayaran. Kalau nomornya belum ada, tombolnya diredupkan dan menjelaskan alasannya, bukan menghilang.

Hari pengambilan

Hari pengambilan dijalani sambil berdiri, roti di satu tangan dan HP di tangan lain. Layar ini cuma punya satu tugas: nama besar, satu aksi jelas per orang, dan yang sudah beres turun ke bawah.

Hari Pengambilan di HP penjual. Data demo.
Hari Pengambilan di HP penjual. Data demo.

Di sini juga biasanya hitungan roti mulai meleset, jadi aplikasinya menanyakan tepat satu hal saat ada yang tidak kebagian: nggak datang dari pembuat, atau dialihkan ke orang lain. Yang pertama berarti setoran ke pembuat roti berkurang. Yang kedua berarti rotinya masih harus dicatat ke mana perginya. Roti lebih yang laku di tempat dicatat sebagai pesanan dadakan, jadi uang dan status bayarnya ikut terlacak.

Di mana duitnya bocor

Masalah keempat adalah yang benar-benar bikin rugi. Rekap lama menganggap tiga angka sebagai satu: roti yang dipesan, roti yang dikirim pembuat roti, dan roti yang terjual.

Aplikasinya memisahkan ketiganya. Setoran ke pembuat roti mengikuti roti yang datang. Omzet mengikuti roti yang terjual. Sisanya muncul di laporan, dalam pcs dan dalam rupiah, yang sekaligus jadi bahan konkret untuk dibicarakan dengan pembuat roti lain kali.

Laporan satu PO: omzet, setoran ke pembuat roti, ongkir, profit, dan perbandingan dipesan dengan diserahkan. Data demo.
Laporan satu PO: omzet, setoran ke pembuat roti, ongkir, profit, dan perbandingan dipesan dengan diserahkan. Data demo.

Beberapa aturan kecil menjaga angka-angka itu. Harga disalin ke setiap pesanan saat dibuat, jadi menaikkan harga belakangan tidak pernah mengubah pesanan atau laporan lama. Dan status "ditutup" hanya mengunci sisi pembeli: penjual tetap bisa mengedit pesanan kapan saja, karena angka sebenarnya terus berubah sampai roti terakhir diserahkan.

Posisinya sekarang

Aplikasinya sudah dipakai untuk satu PO sungguhan. Satu-satunya syarat mutlak dari pemilik usaha adalah tidak boleh ada biaya, selamanya, jadi semuanya jalan di layanan gratis dan pesan WhatsApp dikirim lewat link biasa, bukan API berbayar. Aku membangunnya dengan Claude Code, berangkat dari rencana tertulis dan roadmap di catatanku.

Yang paling membekas: form pesannya tidak pernah jadi bagian tersulit. Bagian tersulitnya adalah menyadari bahwa tiga angka yang selama ini dianggap satu memang tiga angka, lalu merancang alurnya supaya tidak ada yang perlu memikirkan itu di hari pengambilan.

  • #product-design
  • #web-app
  • #small-business

Relevant reviews